Leave a comment

Kehadiran Tujuh Perahu Walenreng

Di angkat dari suatu riwayat bahwa di suatu saat tiba-tiba di tanah Luwu terjadi gelap gulita. Kilat terjadi sambung menyambung, petir dan guntur membahana di angkasa, memekakkan telinga. Seakan-akan dunia mau kiamat. Menjadi paniklah semua semua orang,

mereka pada berkata :

APAKAH GERANGAN YANG DIAMARAHKAN OLEH MAHADEWA SAMPAI SEKUAT INI MEMBERIAN KUTUKAN KEPADA KITA.

Tiga hari tiga malam terjadi gelap gulita. Akhirnya juga di keesokan harinya hari keempat tenang kembali, awan berarak, alampun cerah, orang-orang dikejutkan dengan adanya sesuatu yang aneh yaitu adanya tujuh buah perahu yang berjejer dipelabuhan, kesemuanya lengkap dengan peralatan dan tak ada yang terkecuali, semuanya telah di hiasi oleh perhiasan emas karena bungkalan emas itu sekeliling pelabuhan menjadi terang.
Diantara ketujuh perahu itu satu diantara sangat besar. Itulah gerangan perahu dari batang Walenreng yang besar itu nantinya diberi nama La Welenreng. Dan yang enam lainnya masing-masing bernama :
1. RAKKA-RAKKAE
2. SEMPAM PULI’
3. MARIONRAE
4. LAPATIMBANGNGE
5. LAPALUTTURI LIWENG RI CINA
6. LA WASSUWAJA RI SABBANG PARU
Dengan meringkaskan kisahnya, kini berkemaslah Sawerigading akan memulai pelayarannya bersama semua pemberani lainnya yaitu La Pananrang, La Massaguni, Lapanrita Ugi, Jemmu Ri Cina, Setti Menyala, Setti Ri Gau dan semua sepupunya yang jumlahnya tujuh puluh orang. Kecuali seorang sepupunya yang bernama Lasining Lele tinggal di Luwu, setelah lengkap dan selesai semua barang keperluan seperti persediaan makanan dan peralatanperalatan, dibukalah sure-sure’21 untuk menghadapi hari apa yang baik untuk mereka memulai pelayarannya, maka dibukalah sure’ yang pertama yang memberi petunjuk : “Kalau hari ahad nanti pada hari ke sepuluh dalam bulan itu sampailah dengan selamat ketanah ugi, tidak ada kesulitan naiklah 22Duta di Cina, di terima dengan baik tidak ada persengketaan tetapi biasanya ada korban yang ditinggalkan. Kemudian dibukanya lagi sure’ yang kedua berkatalah 23Puang Matoa Bahwa kalau di hari rahu nanti di hari ke 17 dalam bulan itu maka tujuh kalilah dihadang oleh musuh, kalau naik menyampaikan lamaran di Latanete, ia diterima baik tetapi setelah 24sompa telah naik semua dan keduanya saling melihat tiba-tiba We Cuddai jadi tidak mau. Dia mendapat dukungan dari ayahandanya Datunna Cina kamu terpaksa perang saat itu kamulah yang menang, kamu mendarat diwaktu gelap kamu akan mengawaini We Cuddai secara sembunyi, nanti kamu akan menghasilkan keturunan anak seorang laki-laki. Anak itulah nanti yang akan memperbaiki nama baikmu dengan We Cuddai sampai dapat 25Mallino untuk kembali duduk di atas 26Langkana di Latatanete, oleh puang matawo meramalkan bahwa We Cuddai masih akan melahirkan lagi yang masing-masing 27Awisseng”.

Pelayaran Sawerigading ke daerah Cina, setelah putus hari yang dipilihnya itu hari rabu, hari ke tujuh belas dalam bulan itu setelah selesasi peralatan yang akan dibawahnya itu, turunlah Sawerigading bersama sepupu-sepupunya ditandai oleh orang banyak bangkitlah Sawerigading mengarahkan jiwa dan raganya, seperti bermunajat ke Boting Langi untuk menyatakan sumpahnya, kehadapan maha Dewa Topalanroe lalu memalingkan pandangan 28Ketoddang Toja serta mengulurkan kedua tapak tangan mengarah ke peretiwi tempat kedewaan neneknya Sinau Toja.

Bersumpalah Sawerigading :

ENGKALINGAI MATU LAPUANGNGE PEDDI ADDARARIKKU SYUSYUNNAFIU MAFIU TOPA MAPEDDE PELLENG MAPOPO DAPO (Dengarkanlah saya aturkan wahai tuhanku beginilah sukmaku pilu meratap, hancurlah aku sampai anak cucuku, padam bagai pelita hamburlah bagai tungku). Selanjutnya tak perlulah mendapat fajar harapan hidup untuk anak cucuku, kalau aku pulang kembali ke Wanua Luwu ini, wahai engkau La Welenreng! Berakhirlah engkau berdiri ditempatmu dan akan berakhir juga duduk Ri Mangkauku29 di Luwu. Seketika itu menangislah orang-orang yang mendengarkan sumpah itu terutama kedua orang tuanya lalu bangkit pulalah Bata Lattu menyampaikan harapan kepada neneknya To Palnroi Ri Boting Langi, AMPUN TUANKU! JANGANLAH TUANKU MENDENGAR SUMPAH ORANG YANG DIMABUK ANGAN-ANGAN DAN BUTA MATA HATINYA SEPERTI ITU. YA TUANKU KALAU ANAKKU DAPAT KEMBALI DENGAN SELAMAT DAN DAPAT BERTAHTAH DI ATAS SINGASANA DI BAWAH NAUNGAN PAYUNG KEBESARAN KERAJAAN LUWU DAN APABILA MENDAPAT SELAMA KEMENANGAN TANPA SEHELAIPUN RAMBUTMU TIADA YANG TERCABUT SAYA AKAN MEMPERSEMBAHKAN SE EKOR KERBAU CEMARA30 YANG BERTANDUK EMAS MURNI SEBAGAI TUMBAL KE PADA MAHA DEWA. Turunlah Sawerigading ke perahu La Welenreng dengan lengkap pakaian kerajaan Luwu, di bawah Pajung Pulaweng di arak oleh keluarga istana dan diluarnya yang sama-sama mencucurkan air mata. Tiada berapa lamanya, naiklah Sawerigading, yang langsung merebahkan diri di tengah-tengah ruangan perahu La Welenreng seraya menyelimuti sekujur tubuhnya dengan air mata yang terus menerus mengalir membasahi pipinya. Kemudi-kemudi sudah terpasang, jangkar pun telah dibongkar, layar sudah mulai dikembangkan, bertolaklah La Wakkang Weroe di iringi La Welenreng.

(Sumber: Lontarak Sawerigading
Deskripsi/Terjemahan oleh Mappeasse Gule)

Leave a comment

Pelayaran ke Tanah Cina

Sejak dan sesudah itu berkatalah Sawerigading : KALAU BEGITU BAGAIMANA USAHA KITA UNTUK SAMPAI DI DAERAH PEREMPUAN ITU, SEDANG MENURUT PENGLIHATAN SAYA BERADA DI TEMPAT YANG SANGAT JAUH LAGI YANG DIANTARAI OLEH LAUTAN YANG LUAS.

Berkatalah We Tenri Abeng :

SOAL ITU TAK PERLU KAKANDA SUSAHKAN, ITU BATANG WELENRENG DI 17KAU-KAU SEBAGAI POHON YANG MENJELMA BERSAMA ISTANA LUWU INI, SURUH TERBANGLAH IA, UNTUK KAU BUAT PERAHU YANG AKAN KANDA TUMPANGI MENUJU 18RI LIFU’NA WE CUDDAI DAENG RI SOMPA, PUNNA BOLAE RI LATANETE.

Penulis dapat menjelaskan bahwa cerita khusus penebangan pohon Walenreng sampai proses pembuatan perahu di pertiwi adalah ceritera yang sangat panjang (200 hal.) namun tidak sempat di angkat dalam uraian ini, hanya secara selayang pandang dapat disampaiakan bahwa sewaktu Walenreng itu ditebang karena beratnya langsung mematahkan sebuah gunung (adanya bulu’ polo’e) dan terus terbenang ke dunia bawah.

Pembuatan perahu dilakukan di dunia bawah tersebut dan baru dimunculkan kedunia tengah (bumi ini) setelah setelah selesai semuanya yang jumlahnya tujuh buah, jadi kalau biasanya di daerah Luwu ada semacam Batu Asahan itu bukan Bulisa’19 karena di buat didunia bawah (dunia dalam bumi). Tetapi yang ada hanyalah Te’ba20, karena banyaknya Batu Tebba Walenreng itu biarpun diambil orang, tidak dapat dihabiskan.

Lontarak Sawerigading
Deskripsi/Terjemahan oleh Mappeasse Gule

Leave a comment

Sawerigading Bermimpi

We Tenri Abeng Berkata:
KAKANDA PONG RATU “REBAHKANLAH BADANMU KE ATAS PANGKUANKU. KU TENANGKAN PIKIRANMU. TUTUPLAH YANG TERBUKA, PELIHARALAH DAN BERSIHKANLAH APA YANG KOTOR”. PERBAIKILAH KETENANGAN JIWAMU.
Sawerigading pun merebahkan diri di atas pangkuan adinda We Tenri Abeng. Dengan tidak disadari 16 Cakkaledde Pabbojanna seraya bermimpi melihat seorang wanita yang sama raut wajanya dengan We Tenri Abeng. Setelah ia sadar kembali. Maka bertanyalah We Tenri Abeng. : APA YANG KAU LIHAT DI DALAM TIDURMU WAHAI KAKANDAKU PONG RATU?

Berkatalah Sawerigading :
SAYA MELIHAT SEORANG PEREMPUAN YANG ARUT MUKANYA SAMA DENGAN RAUT MUKAMU, SEDANG BENTUK TUBUHNYA SAMA PULA BENTUK TUBUHMU YANG TINGGI SEMAMPAI ITU.

We Tenri Abeng Berkata :

MIMPI BOLEH BENAR BOLEH JUGA BERSIFAT KENANGAN. KAKANDA PONG RATU! BERCERMINLAH KAMU KE ATAS KUKU JARI JEMARIKU INI, MAKA DIRAPATKANLAH MATANYA UNTUK MENATAP BAYANGAN YANG ADA DALAM KUKU ADINDA WE TENRI ABENG!

Dapatlah dilihat alam di bawah kolom langit, sampai dapat dilihatnya istana Datunna Cina, terlihat olehnya We Cudai di dalam istana. apakah engkau telah telah melihat dengan seksama perempuan itu. perempuan itu We Cuddai namanya Daeng Risompa gelarannya, nama panggilannya Punna Bolae Ri Latanete, putri dari datu tuan kita Lasettung Pugi Datunna Cina bersama ibundanya datu tuan kita We Tenri Abang.

Itulah perempuanku berdiri akan sama tinggi, raut muka seperti pinang dibelah dua, postur tubuh yang tinggi semampai sangat sulit dibedakan seakan-akan di dalam suatu rumah emas aku berdua, adapun warna kulit perempuan yang kau amati itu laksana daun kempiri yang jatuh melayang di pinggir jalan, maka termenunglah Sawerigading memikirkan kekuasaan yang dimiliki oleh datu adinda We Tenri Abeng, pikirnya benar ratu adindaku ini bukan manusia biasa sungguh benar bahwa Ratu We Tenri Abeng adalah perjalanan dewa di
bumi ini.

Lontarak Sawerigading
Deskripsi/Terjemahan oleh Mappeasse Gule

Leave a comment

Pakaian Adat Sudah milik Orang Kaya?

Busana tradisonal Bugis Makassar sudah jarang dibicarakan berdasarkan maknanya. Sekarang ini, busana tradisional tersebut sudah menjadi busana populer dan masuk golongan seni massa, karena sudah diproduksi massal untuk dipakai sebagai assesori biasa. Itulah sebabnya, songkok “To Bone” sekarang sudah kehilangan maknanya. Misalnya saja, asseosri emas yang melingkar sarat dengan makna, makin tinggi lingkaran emasnya, pertanda makin tinggi derajat kebangsawanan pemakainya. Hanya Sombaya di Gowa dan Petta Mangkaue di Bone dan raja yang sederajat yang menurut konvensi tak tertulis berhak memakai lingkar emas yang tinggi ( kira-kira hanya satu centimeter tersisa tanpa balutan emas). Tetapi sekarang semua pejabat yang merasa sebagai penguasa tertinggi setempat tega memakai assesori emas yang tinggi pada “songkok pamiring-nya”. Mungkin karena merasa dialah penguasa, derajatnya ekuivalen dengan raja pada masa lalu. Selain itu, ia juga memiliki uang, sanggup membeli dan memesan dengan harga mahal apapun. Sebenarnya, memang tidak ada konvensi tertulis mengaturnya, tetapi bagi masyarakat yang tahu tradisi busana dan etikanya, merasa hal ini tidak wajar. Sanksinya tidak ada, tetapi hanya tersimpan dalam hati mereka, atau menjadi bahan bisikan dan perguncingan mereka yang mengerti konvensi tidak tertulis ini.

Saya lihat, justru dikalangan mereka yang merasa diri berhak menggunakan assesori emas tinggi pada songkok mereka, justru tahu diri. Merekalah yang memakai asesori sesuai dengan derajat mereka dalam konvensi tradisi. Songkok “pamiring” harian Sombaya Andi Ijo Karaeng Lalolang, raja Gowa terakhir hanya memakai lingkar emas tidak lebih satu sentimeter, tidak setinggi emas songkok pejabat kita di daerah. Hanya saja, Sombaya menggunakan benang emas yang sedikit lebih tebal. Sama halnya dengan La Pawawio Karaeng Sigeri Raja Bone (1895-l905), beliau pun hanya menggunakan selingkar emas rendah pada songkoknya. Andi Mappanyukki Raja Bone ke 32 bahkan lebih banyak terlihat dengan surban dikepalanya.

Warna baju bodo yang dikenakan kaum wanita sehari-hari juga mempunyai konvensi tersendiri. Warna hitam bagi orang tua, warna putih bagi sanro atau “indo pasusuan”, wanita yang mengasuh anak raja-raja. Warna merah muda bagi para wanita muda tetapi sudah bersuami, warna merah jambu (pink) untuk gadis remaja . Konvensi tak tertulis untuk warna baju bodo ini tampaknya sampai sekarang masih diikuti, walaupun coraknya makin kaya dan warna-warnanya ramai. Hal ini bisa dimaklumi, pada masa lalu, pemilihan warna terbatas pada warna-warna dasar, merah, kuning, hitam , putih. Ibu-Ibu kita yang dari Tana Toraja sampai tahun limapuluhan, memakai warna pakaian adat yang sangat terbatas, seperti biru tua baik baju dan sarung, begitu pula warna hitam. Sekarang pun dalam acara-acara penguburan warna baju yang dipakai keluarga yang berduka di Tana Toraja, masih polos.

Sekarang remaja putrid yang memakai baju bodo hanya betul-betul menggunakan “waju ponco”, karena tidak lagi memakai baju bodo yang penuh. Bagi mereka yang sudah biasa menggunakan jilbab dan merasa risih memakai baju transaparan, mereka membuat kreasi baru dengan mengenakan lengan panjang dari baju bisa. Kebiasaan ini biasa ditemui dalam acara-acara perkawinan dan para wanita pengantar undangan perkawinan. Busana yang yang digunakan kaum pria pada upacara pernikahan biasanya memakai baju dan jas tutup yang berhiaskan benang emas, begitu pula sarung yang dikenakan. Kepalanya memakai “sigerra”, seperti topi . Perempuan memakai “simpolong tettong”, baju bodoh dan assesori gelang “sigerra tedong”. Konvensi dan tata cara perkawinan adat seperti inipun tampaknya sebagian besar masih diikuti, kecuali bagi mereka yang mampu dan kaum bangsawan, masih menggunakan tata cara sesuai tradisi lama dengan sedikit modifikasi.

Untuk memberikan gambaran bagaimana busana pria tradisi masa lalu, kita kutip Christian Pelras berdasarkan pengakuan James Brook yang berkunjung ke tanah Bugis tahun l840.

” Pakaiannya mengagumkan, terbuat dari beludru ungi-kecoklatan, dihiasi bunga warna emas, selanaya, agak longgar, dengan bahan sama, menutupi setengah betis, dengan enam atau delapan kancing emas. Bajuny dikancing sampai ke leher , juga dengan kancing emas dan tiap lengan baju dihiasi jejeran kancing emas dari ujung lengan sampai bawah. Selembar sarung atau rok pendek bersongket emas, melingkar dipinggang, dengan keris berhias permata; dia menggunakan songkok berhiasakan benang emas bersulam rapi dan rumit. Raja – raja lain juga juga mengenakan pakain berhias emas…”

Apa yang disaksikan orang asing ini, jelas pakaian upacara adat atau acara penyambutan resmi. Karena pakaian yang dilihatnya, bukan pakaian masyarakat sehari-hari.Tetapi hal bisa melukiskan betapa kayanya perbendaharaan tradisi kita, hanya dalam cara berpakaian.

Sayang , tradisi ini sekarang tidak lagi dijaga karena tidak ada yang merasa berwenang menegakkan konvensi dan aturan adat. Pelanggaran atau yang melenceng dari tradisi serta konvensi tidak tertulis ini, sudah banyak dilanggar. Banyak orang yang sudah merasa kebal dari guncingan masyarakat . Pakaian adat sudah jadi milik orang kaya dan penguasa, tidak ada lagi yang mau menegakkan pakem dan aturannya.

(Catatan A. Makmur Makka)

Leave a comment

Kerajaan Bone dan Gowa Bersatu

I Tenritetta Arung Palakka, Petta Malampee’ Gemmena, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata bukan hanya seorang panglima perang yang berani dan berhati keras. Dibalik itu, ia mempunyai kepribadian yang lunak. Setelah memenangkan Perang Makassar yang berkahir dengan Perjanjian Bongaya 1667, Arung Palakka memilih tinggal di Makassar dan membuat Istana kecil di Bontoala. Ia kemudian menunjuk La Patau kemanakannya untuk menggantikannhya sebagai Arungpone.Hubungannya dengan penguasa Belanda yang tinggal di Benteng Rotterdam, berjalan baik walaupun tidak begitu hangat. Penguasa Belanda tampaknya masih sangat perlu memelihara hubungan dengan Bone penguasa seluruh kerajaan di Sulawesi-Selatan. Karena itu, penguasa Belanda sangat menghormati Arung Palakka serta apa yang telah dikatakannya. Termasuk antara lain, keputusannya untuk menyerahkan kerajaan Bone kepada La Patau kemanakannya.

Tetapi Arung Palakka merasa bahwa sikap permusuhan antara kerajaan Bone dan Gowa tidak bisa terus menerus terjadi. Baginda sangat memaklumi, betapa terhina dan dipermalukannya panglima-panglima perang kerajaan Gowa, ketika baru saja dikalahkan dalam Perang Makassar. Arung Palakka, ingin segera menghapuskan semua stigma dan penghinaan itu. Untuk itu, ia membuat sebuah paviliun besar di Gowa, dimana setiap malam ia memperkenankan panglima muda kerajaan Gowa berpesta dan bergembira. Mereka yang terluka dalam peperangan, dipangilkan seorang Kadhi yang membacakan doa dan memohon kesembuhannya. Apalagi, Arung Palakka sangat menghormati Karaeng Patingalloang, seorang intelektual besar dan pembesar kerajaan Gowa yang pernah menjadi ayah angkatnya, ketika ia sekeluarga menjadi tawanan Kerajaan Gowa jauh sebelum Perang Makassar meletus. Pesta ini diadakan untuk menandingi pesta besar-besaran pasukan Bone dan sekutunya serta pasukan Belanda di Bontoala, yang siang malam merayakan kemenangan Bone.

Arung Palakka berpikir, untuk menyatukan Gowa dan Bone, tidak ada jalan lain adalah mengadakan “pertalian keluarga” antar keduanya bahkan dengan kerajaan Luwu yang pernah membantunya. Untuk itu, Arung Palakka mempersunting putri Karaeng Bontomarannu, panglima pasukan laut Makassar menjadi isteri keduanya, setelah Daeng Talele. Sebelumnya, seorang kemanakannaya sudah dipersunting oleh penguasa di kerajaan Luwu. Setelah ia meninggal karena sakit keras pada tanggal 6 April 1696 , La Patau mengambilalih kepemimpinan Arung Palakka sebagaimana kehendak Arung Palakka sendiri. La Patau Matama Tikka Walinonoe’ kemudian melanjutkan kebijakan Arung Palakka dengan mempersunting salah seorang putri Karaeng Patukangan, seorang kerabat dan pembesar kerajaan Gowa yang bernama I Mariama Karaeng Patukangan. Pada makam La Patau yang diberi gelar Matinrio ri Nagauleng, sekitar 30 km dari jalan poros menuju Sengkang, sekarang makam I Mariama terletak tidak berapa jauh dari makam La Patau serta isteri-isterinya yang lain.

(Catatan Dituturkan : A.Makmur Makka)

Leave a comment

Kerajaan Suppa Melawan Pasukan Inggris

Kerajaan Inggeris pernah menjajah kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan pada abad ke XVIII. Pada waktu itu, Belanda kalah perang melawan Inggeris di Eropah dan tunduk pada Traktat (konvensi) London tahun 1814.. Di Batavia dan Jawa, Raffles pemimpin tertinggi Inggeris di Jawa mengambil alih kekuasaan dari kerajaan Belanda. Raffles terkenal pencinta alam dan dialah yang mendirikan Kebun Raya Bogor, sebelum ia dipindahkan lagi ke semananjung Malaya dan Singapura. Barulah pada tahun 1816, Kerajaan Belanda kembali berkuasa di kawasan Nusantara. Gubernur Jenderal Belanda sebagai pemimpin tertinggi Belanda di Batavia bernama G.A.G Philip van der Capelien. Tetapi hubungan antarkerjaaan – kerajaan di Sulawesi-Selatan dengan Pemerintah Hindia Belanda, tidak lagi semulus semasa kejayaan Hindia Belanda di Sulawesi-Selatan dibawah Admiral Speilman.

Kerajaan-kerajaan yang sudah dikuasai Gowa dan Bone, karena “politik kawin-mawin” yang digencarkan antara keluarga Kerajaan Gowa dan Kerajaan Bone semasa akhir perang Makassar yang dimenangkan Arungpone La Tenritatta Arung Palakka, membuat kedua kerajaan ini makin dekat dan bersatu. Hal inilah yang juga menyusahkan pemerintah kerajaan Inggeris di Makassar yang dipimpin Residen Philips dan Mayor Dalton pimpinan pasukan kerajaan Inggeris .

Saat kuasa kerjaan Inggeris di Makassar hendak mengendalikan kekuasaan raja-raja di Sulawesi-Selatan sebagaimana masa pemerintahan Hindia Belanda, Inggeris mendapat tantangan, In ggerisn misalnya hendak menentukan siapa yang berhak dan direstuinya menjadi raja. pada setiap kerajaan. Kebijakan ini terhalang ketika Inggeris hendak mementukan siapa yang menjadi raja di Kerajaan Gowa. Pada waktu itu, raja Gowa terjadi dualisme pemerintahan, yang pertama dipegang oleh Arung Mampu, Sultan Mallisujawa didukung oleh rakyat Gowa dari pegunungan serta Arumpone dan Sultan Zainuddin Karaeng Katangka didukung oleh penduduk Gowa dari pesisir pantai. Sultan Zainuddin ini didukung oleh kerjaaan Inggeris di Makassar. Barulah ketika Raja Gowa dipimpin oleh I Mappatunru Karaeng Lembangparang, putra Raja Tallo, maka dualisme ini berakhir. Wakil kerjaaan Inggeris di Makassar kemudian menyerahkan regalia ( benda kerjaaan) berupa Sudangga ( keris) dan Kalompoang ( mahkota) ke I Mappatunru Karaeng Lembangparang. Pada waktu itu, Inggeris tinggal menghadapi Arungpone To Appatunru yang juga memakai gelar Arung Palakka. Arumpone ini hendak menggelorakan kembali semangat Bone untuk merdeka dan bebas dari tekanan manapun. Inggeris tentu saja tidak senang, Inggeris ingin menjatuhkan To Appatunru yang sudah menyatakan permusuhan dengan kerajaan-kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, seperti Gowa,Soppeng dan Sidenreng. Sebagai hukuman kepada Arumpone To Appatunru, pelabuhan Parepare yang sudah muncul kembali, terutama sebagai lalu lintas perdagangan hasil pertanian dan biji besi ( dari Luwu ?) yang dikuasai oleh kerajaan Bone, diserahkan pengelolaannya kepada Addatuang Sidenreng La Wawo Sultan Muhammad Said. Untuk mengadakan penguasaan mutlak pada kerajaan Bone, maka Inggeris bermaksud menyerang Bone dan menaklukkannya.

SUPPA BERPERANG MELAWAN INGGERIS

Disinilah Inggeris terlibat dalam peperangan melawan Kerajaan Suppa yang dipimpin oleh Datu Suppa yang bernama Sultan Aden. Datu Suppa tidak lain adalah adik ipar dari Arumpone To Appatunru Arung Palakka. Tahun 1815, pasukan Inggeris yang dipimpin oleh Letnan Jackson atas perintah Kapten Wood di Makassar, hendak menuju Bone lewat Parepare. Tetapi Datu Suppa menghadang perjalanan pasukan yang melalui darat ini . Perang seru terjadi, dengan persenjataan pasukan Suppa yang sangat kuat, pasukan Inggeris akhirnya berhasil dihalau . Pasukan Inggeris mundur kembali ke Makassar dan hendak melalui Tanete Barru. Tetapi pasukan Inggeris kembali diserang oleh pasukan Datu Tanete La Patau yang ternyata juga sepupu Arungpone To Appatunru Arung Palakka. Pasukan Inggeris babak belur dan terus mengundurkan diri ke arah Makassar, daerah yang dilaluinya antara lain Sigeri dan Maros, kerajaan yang sudah mengakui kekuasaan Inggeris, turut diserang pasukan Datu Tanete dan akhirnya dikuasai oleh La Patau.

Inilah perlawaan heroik kerajaan Suppa melawan Inggeris dan pada abad sebelumnya juga mengusir Portugis yang berusaha mengkristensi rakyat Suppa dan rajanya. Ketika Hindia Belanda kembali berkuasa berdasarkan konvensi London 1814, Belanda hendak memulihkan kekuasaannya pada kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkannya di Sulawesi-Selatan, khususnya Gowa dan Bone. Penguasa Hindia Belanda di Makassar mengadakan pembaruan dan pengukuhan kembali Perjanjian Bongaya ( Cappaya ri Bungaya) tahun l667. Perjanjian ini dibuat Kerajaan Gowa dibawah Sultan Hasanuddin, setelah beliau dikalahkan oleh persekutuan Belanda dan Bone.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, “politik kawin-mawin” antar keluarga kerajaan Gowa dan Bone untuk mengakhiri permusuhan yang abadi atara keduanya, telah berhasil menyatukan dan mendamaikan Gowa dan Bone. Pembaruan Perjanjian Bongaya bertujuan agar Hindia Belanda dapat memaksakan kembali kemauannya kepada kerajaan-kerajaan di Sulawesi-Selatan ini. Kerajaan Bone yang pernah menjadi sekutunya, saat itu dikuasai oleh keturunan dan sanak keluarga Tenritatta Arung Palakkqa, Petta Malampe’ Gemmene, Batara Tungkena Tana Ugi, ternyata tidak ingin terus menerus diperintah penguasa Hindia Belanda. Semua Arungpone, sampai pada Arungpone La Pawawoi dan Arungpone Andi Mappanyukki ( sebelumnya menjadi Datu Suppa), tetap melakukan penentangan dan perlawanan. Salah seorang diantaranya adalah Arungpone Besse Kajuara, kendatipun dia seorang perempuan, perlawannnya kepada pasukan Hindia Belanda sangat gencar. Ia kemudian dikalahkan oleh Belanda dan turun tahta. Ia tidak mau menatap lagi di Bone dan memilih tinggal di Suppa, tanah kelahirannya. Tahun itu juga ( l862) oleh rakyat Suppa dia dinobatkan menjadi Datu Suppa sampai akhirnya dia mangkat dan diberi gelar Datu Suppa Matinroe’ ri Majennang.

Saya tidak tahu dimana tempat pemakaman Besse Kajuara di Majennang Suppa.Kelurahan Majennang tidak luas, bagi penduduk Suppa akan lebih terhormat jika makam Datu Suppa dan pahlawan wanita ini dipelihara dengan baik. Tentu ini menjadi wewenang pemerintah kabupaten Pinrang.
(Catatan A. Makmur Makka)

Leave a comment

Bujukan We Tenriabeng

Berkatalah Batara Lattu kepada isterinya Datu Sengngeng :
SEBAIKNYA ENGKAU ADINDA SURUH SAJA ANAKMU WE TENRI ABENG UNTUK MENENANGKAN DAN MENYADARKAN SAUDARANYA, LA MADDUKELLENGDUKELLENG, KEMUDIAN BERIKAN SEPENUHNYA KEPADA KEMAUAN DEWA PATOTO DI BOTING LONGI, SEMOGA YANG MAHA MULIA MAU MENUNJUKKAN KEPADANYA SEORANG WANITA YANG SAMA RAUT MUKANYA DENGAN SAUDARANYA WE TENRI ABENG.

Sejak dan sesudah itu, maka diantarlah keluar We Tenri Abeng atau Daeng Manutte ke tempat. Didapatinya kakek Datu Sawerigading bergelimang air mata dalam selimut yang menutupi sekujur tubuhnya. Dengan langkah yang pelan lalu duduk disampingnya, seraya diulurkan tangannya dengan jari jemari yang halus di berikannya selimut di atas kepalanya lalu diusap dahinya kemudian dirabah dadanya untuk merasakan turun naik nafasnya, keluarlah suara halus dari mulutnya :

TIDURKAH ENGKAU KAKANDA PONG RATU, ORANG YANG KELIRU SETINGGI LANGIT, SELAYANG TERTUTUP MATA HATINYA, TUDURKAH ENGKAU? Kata We Tenri Abeng

PANTAS!
KALAU TUBUHMU BESAR, JUGA KEBODOHANMU, BESAR PULA KANDA PONG RATU. TIDAK PERNAH KUDUGA BAKAL TERJADI. SAMPAI HATIMU MENEMPATKAN AKU SELALU DALAM KENANGANMU UNTUK MENJADI PERMATA HATIMU, KANDA PONG RATU? BUKANKAH DI DALAM SEBUAH PEMBULUH EMAS, KITA PERNAH BERSAMA, LALU KELUAR BERSAMA PULA, BERGELIMANG DARAH DI TAPAK TANGAN DUKUN. BUKANKAH DEMIKIAN KAKANDA?

Sawerigading tersentak mendengarnya. lalu ditanggalkannya selimutnya seraya mengusap air mata yang meleleh dipipi adiknya, Lalu berkata :

ADINDAKU WE TENRI ABENG, GERAK GERIKMU YANG TENANG ITU MEMBUAT AKU TIDAK DAPAT MENELAN SESUAP NASI DAN POSTUR TUBUHMU YANG TINGGI SEMAMPAI ITU MEBUATKU TIDAK BISA TERLENA SEJENAK.

MAKA BERKATALAH WE TENRI ABENG : KAKANDA PONG RATU! SEKEDAR MENGUCAPKAN SAJA KATA-KATA SAJA, KATA-KATA YANG DEMIKIAN ITU SUDAH CUKUP ANGKER BAGI KITA, APALAGI KALAU DIBUKTIKAN DENGAN ADANYA PERKAWINAN ANTARA DUA ORANG BERSAUDARA KITA AKAN DIKUTUK OLEH MAHA DEWA DENGAN MALAPETAKA; Tellao Paki Sangiangseri , Temmaccolli Pakka-Pakka’e , Tessillarongengngi Welarengnge , Tessawetoi Pabbanua’e .

Berkatalah Kembali We Tenri Abeng :
WALAUPUN SEANDAI AKU MENURUTI RAYUANMU MELANGGAR PANTANGAN, SERTA MENENTANG KEHENDAK MAHA DEWA PALANROE, TENTU KITA MASIH MENGALAMI KESULITAN KARENA TIDAK MUNGKIN AKAN DITERIMA OLEH ORANG BANYAK DI LUWU INI.

Sawerigading Berkata :
ADINDAKU WE TENRI ABENG! KALAU KITA TIDAK AKAN DITERIMA OLEH ORANG BANYAK DI LUWU INI ADINDA AKAN KU BAWAH DI TOMPO’ TIKKA DI DAERAHNYA DATU SEPUPU KITA PALLAWA GAU.

We Tenri Abeng Berkata :
APAKAH ENGKAU TIDAK MENGETAHUI KAKANDA PONG RATU, TENTANG MALAPETAKA YANG MENIMPA DAERAH DI TOMPO TIKKA?

ORANG KAMPUNG KELAPARAN TERUS MENERUS, LESUNG-LESUNG YANG TADINYA DIPAKAI MENUMBUK PADI, SEKARANG SEMUANYA DI LETAKKAN TERBALIK KARENA TIDAK DIGUNAKAN LAGI. BUTIR-BUTIR PADI HARUS DIKULITI SATI PERSATU BARU DI MASAK MENJADI NASI. APAKAH ENGKAU TIDAK TAHU KALAU TERJADI GARA-GARA PERKAWINAN DINRU LAWENG MALLAWENG

KAKAK SEPUPU KITA PALLAWA GAU DENGAN SAUDARANYA WE TENRI RAWE. SUNGGUH SANGAT BODOH PIKIRAN KAKAK SEPUPU KITA PALLAWA GAU YANG SAMPAI HATI MENEMPATKAN DALAM ANGAN-ANGANNYA SAUDARA SATU LOLO NADDUI. KEBODOHAN SEPERTI ITU MUNCUL LAGI DALAM KEBODOHANMU SEPERTI SEKARANG INI. KAKAK SEPUPU KITA WE TENRI RAWE DIBUANG KE SANA PADA WAKTU AGAK MALAM.

Berkatalah Sawerigading :
KALAU BAGIKU LEBIH BAIK KAMU KUBAWAH NAIK KE BOTING LANGI, DIDAERAH PEMUKIMAN SEPUPU KITA REMBANG RILANGI.

We Tenri Abeng Berkata:
CUKUPLAH RASANYA ORANG DI BUMI INI MENGETAHUI KEBODOHANMU. MUMADIMESSI MENYIARKANNYA DI BOTING LONGI.

Sawerigading Berkata : KALAU BEGITU LEBIH BAIK SAYA BAWAH KAMU KEPERETIWI.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.